TERANG SEJATI-DUSUN JATI

Beranda » ARTIKEL -ARTIKEL » BUAT YANG TERCINTA (IN MEMORIAM)

BUAT YANG TERCINTA (IN MEMORIAM)

MENGAPA ENGKAU BEGITU CEPAT PERGI?

Siang itu begitu indah, matahari besinar dengan cerah. Awan putih di langit gesit menari serasa menjadikan hari-hari dan hati sejuk nan asri. Ya memang semuanya terlihat indah dan anggun. Dalam keindahan hari itu kubuka satu pesan singkat di hp. Apa? Apa? Kaget! Tak percaya aku di buatnya. Sebuah sms dari teman kubaca. Kekagetanku bukan karena aku mendapat uang saku lebih atau ketiban rejeki namun sungguh tidak dinyana; sebuah berita duka.
Seorang anak didik kami di sekolah yang baru berusia tujuh tahun telah tiada. Kekagetanku adalah sebuah respon dari ketidakpercayaan. Mengapa ia begitu cepat pergi? Apa penyebabnya? Anak itu memang menawan. Ia seorang anak tunggal yang begitu pintar di sekolah, pandai bergaul, mempunyai bakat tari dan bermain drama anak. Itulah yang kurenungkan dalam perjalanan ke rumah dia singgah siang itu.
Tangisan dan ratap terdengar dirumah yang sederhana itu. Kulihat ibu dan bapanya menangis demikian pula sanak keluarga yang lain. Aku memang sangat sedih dan tidak percaya dengan hal ini. Aku bersedih bukan karena orang tua dan sanak saudaranya menangis tetapi aku bersedih karena seorang anak yang cantik, baik telah tiada. Inikah yang namanya kehendak Sang Maha Pencipta? Aku memang tidak harus menjawab pertanyaan itu yang aku tahu ini adalah sebuah kenyataan.
Cerita pagi sebelum kejadian itu; ayahnya hendak pergi membeli gas LPG tabung tiga kilogram. Dengan mengendarai motor. Kemudian sang anak hendak ikut ayahnya. Anak naik dari sebelah kanan dan kemudian menarik handle gas motor. Motor dalam keadaan hidup dan gigi pun demikian. Naas memang motor tidak dapat dikendalikan dan terus bergerak hingga menabrak pagar hidup di depan rumah dan motor berjalan melewati pekarangan rumah yang menurun hingga anak ini tertimpa motor. Ketika di bawa ke rumah sakit tiada tertolong lagi.
“Tuhan kembalikan dia!” Inlah yang terbersit di benakku. “biarkan dia kembali hidup!” namun apakah dayaku? Kesedihan dan rasa kehilangan yang mendalam ada di dalam jiwa yang penuh gelisah ini. Aku hanya dapat menatap dia yang tertidur kaku di peti itu. Aku masih teringat canda dan senyumnya, dan sifat kekanak-kanakknya yang lucu dan lugu. Biarkan airmata dan tangis itu memuaskan rasa sedih dan kehilang itu.
Hari demi hari berlalu. Mengapa keindahan itu begitu cepat berlalu? Mengapa orang yang sebaik dia dan seorang anak kecil yang polos dan penuh talenta itu begitu cepat pergi? Itulah perbincangan kami di hari –hari itu. Anakku engaku telah pergi dari dunia dengan keindahannya. Namun aku tahu kemana engkau berada saat ini. Engkau telah berada dalam keindahan sejati di sorga dalam kebahagian dan nyanyian yang sangat indah lebih dari apa yang dinyanyikan dunia ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 23,961 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.091 pengikut lainnya

Flickr Photos

Fast-flying Falcon

sunset and fishing nets

Force of Life - Pushing Boundaries I

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: