TERANG SEJATI-DUSUN JATI

Beranda » BERITA » Kearifan Lokal Masyarakat Desa

Kearifan Lokal Masyarakat Desa

PANORAMA DESA

RELIGIUSITAS MASYARAKAT DESA DAN
KEHARMONISAN ALAM

Latar belakang kehidupan nyata

Gunungkidul merupakan daerah kabupaten yang berada di sebelah timur kota Jogjakarta. Ibu kota Kabupaten GunungKidul adalah kota Wonosari. Kota ini berjarak sekitar 40 Km dari Kota Jogjakarta. Kabupaten memiliki 17 daerah Kecamatan. Kabupaten GunungKidul memiliki kekahasan tersendiri yaitu daerah yang memiliki perbukitan sangat banyak; bila musim penghujan sangat indah namun akan berbeda bila pada musim kemarau panjang. Karena pada musim hujan tumbuhan-tumbuh semak dan pepohonan menghijau sedangkan pada musim kemarau pohon meranggas, sementara semak-semak mengering dan menjadi kayu bakar. Musim kemarau panjang menjadi suatu kejadian yang sangat menyedihkan karena para petani tadah hujan diberbagai kecamatan (tidak semua) tidak dapat mengerjakan ladang. Karena pada musim ini tanah pertanian atau ladang berbentuk tanah-tanah yang kering keras dan diatasnya berdebu serta ada rongga-rongga. Keadaan ini diperparah dengan tidak adanya persediaan makanan bagi kawanan ternak. Sehingga untuk menghadapi masa sulit atau masa paceklik ini para peternak membuat persediaan makanan ternak (tandon); yaitu dari batang tumbuhan padi (dami) dan tumbuhan kacang tanah (Rendeng), yang telah dipanen pada musim penghujan.

Kemarau panjang yang terjadi antara bulan Juli sampai Oktober memang menyisakan berbagai duka karena dari segi fisik keadaannya sangat gersang, jalan-jalan desa berdebu dan kesulitan air minum terjadi di berbagai tempat. Sebelum tahun 1995 keadan kekeringan sangat menyedihkan karena belum tersedianya saluran air di desa-desa. Pada masa sebelum tahun 1995 berbagai dusun mendapat bantuan bak air dari pemerintah dan dari berbagai universitas yang ada di kota Jogjakarta. Sebelumnya warga masyarakat memiliki bak penampungan air yang dibuat sendiri berbentuk persegi panjang dengan kapasitas antara 1000 – 2000 liter air. Warga masyarakat kemudian membuat bak air yang berbentuk tabung dengan kapasitas sampai 5000 liter. Bak penampungan air ini terbuat dari besi yang dicor pasir semen. Sehingga air ini dapat digunakan sebagai persediaan jika musim kemarau tiba. Bila musim kemarau panjang terus berlangsung maka warga masyarkaat di berbagai kecamatan disebelah selatan dan tenggara kota Wonosari harus membeli air dari kota wonosari yang kemudian diangkut dengan truk tangki atau menggunakan truk yang membawa drum-drum kecil ukuran 100 ltr.

Sebuah usaha pernah dilakukan untuk membantu mengatasi kekurangan air. Di berbagai tempat di dusun-dusun biasanya memiliki telaga yang berukuran sebesar lapangan sepakbola. Telaga ini memang sangat alami karena dapat mempertahankan air pada musim kemarau. Telaga ini difungsikan oleh penduduk untuk mencuci dan mandi. Air ini juga dapat dibawa dengan menggunakan blek (tempayan terbuat seng alumunium) untuk mengisi bak penampungan di rumah-rumah. Namun naas bahwa usaha mengatasi kekeringan air berujung pada matinya telaga-telaga terebut. Sekitar tahun 1990- sampai 1992 padat karya dilakukan untuk mencangkul telaga dengan tujuan membuat kedalaman telaga bertambah dan air yang ditampung pun semakin besar. Kemudian pada bagian-bagian pinggir telaga atau bibir telaga yang semula terbuat dari batu-batu alami diganti dengan cor semen. Proyek ini menjadi pelajaran tentunya. Karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa lebih kuat menampung air dari pada buatan manusia yang lebih moderen. Mungkin mati-matinya telaga tersebut diakibatkan lapisan tanah atas suatu telaga tidak dapat berfungsi karena dibuang melalui usaha pencangkulan. Dan kini telaga tinggallah sebuah nama dan cerita bagi anak cucu. Siapa yang bertanggung jawab? Ya tidak ada!

Keadaan ini memang sangat memilukan dan menyedihkan. Selain itu musim kemarau panjang sangat menyerap energi manusia. Karena banyak warga di beberapa kecamatan mengalami kesulitan air bersih air. Air untuk keperluan mencuci, mandi, memasak di dapur, memberi minum ternak sangat minim. Sampai-sampai kaum laki-laki dewasa harus mengambil air menggunakan blek air ke goa-goa bawah tanah yang jaraknya dapat mencapai 15 km dari rumah. Sangat menyedihkan memang. Sekitar tahun 1995 keadaan mulai berubah, karena ada usaha pemerintah untuk membangun saluran air yang dikelola PDAM dengan cara mengambil air-air di bawah tanah dengan menggunakan mesin diesel yang kemudian disalurkan ke berbagai kecamatan di sebelah selatan dan tenggara kota Wonosari. Air yang dikelola PDAM dapat sampai ke rumah-rumah penduduk dan kesulitan air dapat diatasi sekalipun tidak 100% karena debit air pada musim kemarau juga sangat berkurang.

Sekitar bulan Agustus para petani mulai memanen ubi atau singkong di ladang, setelah itu tanah dibiarkan kurang lebih 1 sampai 2 bulan sambil menunggu datangnya musim hujan. Pada bulan September para petani tradisional mulai membajak sawahnya dan menebar pupuk kandang sehingga siap untuk di tanami ketika hujan turun.

DOA DI MUSIM KEMARAU DAN SPIRITUALITAS KAUM TANI
Doa merupakan sarana yang tepat untuk menunjukkan keterbatasan dan ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta. Bila orang dalam keadaan makmur dan tanpa kesulitan mungkin tidak ada doa yang sedemikian karena merasa bahwa semuanya telah ada. Alam telah membentuk kehidupan manusia. Bukan karena lingkungan social masyarakat yang menjadikan demikian. Doa pada musim kemarau mungkin telah agenda yang wajib dalam ibadah-ibadah karena kemarau yang panjang sangat menyiksa. Para petani melantumkan nyanyian, memanjatkam doa-doa kepada Sang Khalik langit dan bumi memohon TUHAN menurunkan hujan. Ini adalah sebuah fakta spiritualitas manusia sangat kuat bergantung kepada Yang Mahakuasa. Dari implikasi iman, tentunya ini adalah sebuah titik balik, betapa para petani yang sederhana tersebut hidupnya berlandaskan iman. Mereka menanam bibit dan menabur benih berlandaskan iman, sampai menuai mereka menggunakan iman. Dari sinilah kehidupan spiritualitas itu terbentuk dalam diri petani.

Pada masyarkaat Jawa di pedesaan meyakini berbagai kuasa yang berada di atasnya. Mereka mengadakan slametan ketika terjadi proses kehamilan seorang ibu, 7 bulan usia kandungan sampai kelahiran anak bahkan pada usia 35 hari ada acara pemberian nama bagi anak-anak karena pada usia ini tali pusar (plasenta) bayi sudah kering dan lepas. Slametan di suatu rumah dilakuka pula bila ada anggota keluarga yang sembuh atau sedang sakit sebagai usaha menolak bala. Upacara ini biasa disebut sebagai kenduri. Sedangkan upacara untuk memperingati meninggalnya orang yang telah meninggal dilaksanakan pada hari 1, 3, 40, 100, 1 tahun dan 1000 hari.

Kembali kepada ketergantungan manusia dan doa kepada Tuhan, di berbagai dusun dan desa di GunungKidul memiliki tradisi nyadaran dan rasulan. Tradisi ini adalah sebuah upacara yang bentuknya bersih dusun atau desa. Acara ini merupakan acara nguri-uri atau merawat desa. Upacara ini dilangsungkan setahun sekali antara bulan Juli sampai Agustus hampir serempak di berbagai desa. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian; ketoprak, reog, jatilan, atau naggap wayang semalam suntuk.

Kehidupan manusia Jawa memang sangat erat dengan doa dan nilai spiritual. Sebagaimana upacara-upacara yang dilangsungkan dalam tradisi dan adat, doa permohonan akan air hujan tidak pernah lepas dari bibir dan mulut para petani. Ini menunjukkan petani yang sederhana sering menjadi kalah-kalahan dalam status social memiliki selalu mengusahakan kegiatan religiusitas pada tataran tinggi. Hal ini dilakukan demi berlangsungnya kehidupan manusia termasuk anak cucu, demi keharmonisan hubungan antara Sang Pencinta dengan alam serta manusia.

Angin bertiup di langit, menyapu dan mengumpulkan mega-mega. Para petani melihat bintang-bintang sebagai sabda alam. Mereka menatap langit dan menantikan turunnya hujan. Saat yang dinanti pun telah tiba. Mendung dilangit menjadi tanda, para petani duduk-duduk dan berbincang tentang masanya telah datang, hujan mengguyur dengna deras. Hari pertama berlansung. Mereka tetap menaikkan doa untuk datangnya hujan susulan. Hujan pun terus turun dan membasahi bumi. Tanah-tanah perladangan yang dulunya keras dan berdebu dan menganga seperti hendak menelan manusia telah pulih kembali. Sekarang tanah yang selesai dibajak dan ditaburi pupuk kandang pun telah siap ditaburi benih. Pada hujan pertama biasanya petani menabur benih padi, jagung ,dan menaman lombok. Pada saat berikutnya para petani mulai menancapkan potongan-potongan batang ketela pohon berukuran 20cm.

Syukur dan doa kemudian dipanjatkan para petani sebagai ungkapan terima kasih karena yang Maha Kuasa telah menurunkan hujan dan dimulainya kehidupan dari tanah yang dulunya gersang.

MASYARAKAT DAN PASARAN
Dalam tradisi masyarkat Jawa dikenal adanya pasaran. Pasaran merupakan hitungan hari yang terdiri dari lima hari yaitu: Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Sepasaran berarti hitungan yang berlangsung dalam hitungan tiga puluh lima hari. Hitungan dipadukan dengan hitungan tujuh hari (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu) sehingga pada penghitungannya ada urutan sebagai contoh:
Senin Pon, Senin Wage, Senin Kliwon, Senin Legi, dan Senin Pahing
Bila selasa maka
Ada penghitungan dan hari lainnya
Selasa Pon, Selasa Wage, Selasa Kliwon, Selasa Legi, dan Selasa Pahing
Sehingga bila dihirung sepasaran ada 35 hari.

Pasaran dan pasar tradisional
Dalam masyarakat tradisional Jawa dikenal pasaran yang berlangsung berdasarkan hitungan 5 hari. Bila para petani hendak melakukan transaksi jual beli maka mereka bertemu dipasar yang diadakan pada hari-hari tertentu saja; satu kali dalam lima hari. Sehingga pasar yang dijadikan transaksi disebut pasar Pon, pasar wage, pasar Kliwon dan pasar Pahing serta pasar Legi. Transaksi tradisional di pasar tradisional memang sangat menarik. Para petani menjual barang-barang hasil pertanian meraka, kepada para pengepul. Kemudian mereka membeli barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, minyak, ikan, daging sampai peralatan masak dan peralatan untuk sehari-hari seperti sabun dan pakaian. Inilah kesederhanaan dan kepolosan hidup masyarakat petani. Mereka membawa dagangan ke pasar dengan cara dipikul dengan tomblok (keranjang) oleh para lelaki dewasa, sedangkan para ibu menggendong dagangan mereka. Tertawa dan canda yang sangat khas terdengar demikian pula sapaan dan keterbukaan dalam bermasyarakat ada di dalam kehidupan mereka.

GEMPA DAN BENCANA
Ketika belum pernah terjadi tsunami di Aceh tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribua manusia atau gempa Jogja tahun 2006 yang menewaskan lima ribu orang masyarakat di Gungkidul sangat akrab dengan goncangan gempa. Bila gempa datang maka kami berteriak: “Lindu, Lindu!!” (yang artinyagempa). Namun apa yang terjadi di tahun 2006 sangat diluar jangkauan pemikiran banyak orang. Gempa tersebut memporakporandakan pemukiaman penduduk di Bantul dan sebagain Jogja dan kearah Timur sampai wilayah Solo. Desa-desa di sepanjang daratan menuju pantai Parangtritis diluluhlantakkan oleh gempa, pasar Piungan pun rata dengan tanah dan banyak kerugian materiil sampai korban nyawa. Tentu ini sangat menyedihkan.

Pada waktu gempa di Gunungkidul terdapat hanya 1-2 korban jiwa dan keretakan di pasar Wonosari kota. Gempa memang bukan hal yang baru dirasakan oleh penduduk di GunungKidul karena memang gunungkidul berada di pinggiran pantai namun wilayah Gunung Kidul berada pada wilayah perbukitan dan dataran tinggi. Bencana memang terdapat dalam berbagai bentuk; gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus dan tsunami. Sebagai halnya kekeringan juga menjadi bencana bila tidak ditanggapi sebagaimana seharusnya atau dihadapi sebagai perjalanan kehidupan manusia di muka bumi. Tentu ini bila dimaknai akan menjadi pelajaran tentang pentingnya kewaspadaan hidup manusia di tengah dunia; perlu ada ibadah sebagai praktik keagamaan, kepedulian terhadap sesama, sikap andhap asor, lembah manah (rendah hati) dan manusia harus memelihara kelangsungan ciptaan.

PANTAI DAN KEINDAHAN ALAM

Gunungkidul yang luas dihiasi dengan batu-batu alam yang dapat dijumpai di setiap jalan memberi keindahan tersendiri. Pada sisi selatan GunungKidul terdapat barisan pantai yang indah dan menawa. Mulai dari pantai Sadeng, Sodong, Wedi Ombo, Siung, Drini, Kukup, Krakal dan Baron. http://www.wisatagunungkidul.com

Pantai yang dihiasi dengan batu karang, pasir putih serta perbukitan memberikan nuansa keindahan alam ciptaan Tuhan. Masyarakat nelayan menggantungkan kehidupan di tengah-tengah dahsyatnya pantai samodra Hindia yang luas. Disana nelayan dapat menagkap ikan-ikan dari laut selatan yang sangat ganas, rumput laut dan berbagai tangkapan lainnya.

MASYARAKAT TRADISIONAL DAN MODERENISASI

Dekade 2000 merupakan sebuah titik balik dari perubahan yang sangat menentukan dalam kehidupan masyarakat tradisional di GunungKidul. Pada tahun ini kemajuan teknologi sudah mulai berlangsung. Program listrik masuk desa yang disampaikan oleh pemerintah sekitar tahun delapan puluh tujuh direalisasikan tahun 2000. tepat sesuai janjinya pada waktu itu. Seiring dengan kemajuan listrik masuk desa maka teknologi mulai masuk ke desa-desa mulai dari televise, audio video player, mesin-mesin tenaga listrik pun masuk ke desa-desa.

Peralatan komunikasi sebelum tahun 2000 di desa-desa paling banyak adalah radio. Sedangkan televise hanya bebarapa biji di setiap desa karena waktu itu bertenaga accu. Radio menjadi alat komunikasi yang sangat menghibur. Bagi orang-orang tua atau mbah atau eyang, kakek nenek mereka mendengarkan wayang yang rutin disiarkan setiap hari malam Selasa, Jumat atau malam Minggu. Bagi warga yang mampu dan sedang memiliki nazar biasanya dapat meminta kepada Stasiun Radio untuk menyiarkan Wayang semalam suntuk dan keluarga beserta sanak saudara yang sedang mengadakan hajatan dapat berkumpul tirakatan sambil mendengarkan siaran wayang di radio.

Namun saat ini perubahan besar telah terjadi. Komunikasi yang murah dapat dinikmati. Televise sudah dapat dinikmati secara bebas tidak hanya TVRI, tetapi semua tayangan dapat dinikmati oleh masyarakat karena listrik telah dapat dinikmati oleh warga masyarakat sampai ke pelosok desa. Demikian dengan masuknya alat komunikasi Handphone atau phone seluler telah memungkinkan warga masyarakat untuk berkomunikasi dengan anak-anak yang ada diperantauan. Bahkan saat ini dipastikan tidak ada lagi surat menyurat lewat kantor pos lagi karena sms dan ngobrol lewat telepon telah menggantikannya. Karena pada masa dulu, orang tua harus menulis sendiri (menyuruh anaknya yang dirumah) selembar surat untuk disampaikan kepada anak-anaknya yang ada jauh diperantauan. Dan kabar berita tersebut baru dapat diterima anaknya setelah satu minggu atau satu bulan diterima anaknya. Kemudian mendapat balasan sekitar sebulan kemudian dari anak-anaknya diperantuan. Memang suatu komunikasi yang panjang dan kerinduan yang harus dibayar mahal.

Kemajuan teknologi memang telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat tradisional saat ini. Surat menyurat telah diganti dengan short massage service (SMS) ataupun obrolan gratis yang ditawarkan penyedia jasa seluler. Demikian kirim mengirim uang pun tidak lagi menggunakan wesel pos tetapi lewat rekenging bank-bank. Pada intinya banyak alat komunikasi elektronik menggantikan peran yang sifatnya manual atau tatap muka. Permasalahan yang mungkin dihadapi oleh masyarkat di dusun-dusun adalah ekonomi yang sangat sulit sementara tidak ada kenaikan taraf hidup dalam dunia pertanian. Sementara rekening listrik dan air tidak bisa harus dibayar dan tidak bisa ditunda. Ini adalah sebuah permasalahan yang kemudian timbul dari dunia moderen di tengah-tengah masyarakat tradisional yang nota bene miskin. Tentu harus ada jalan keluar dari permasalahan tersebut. Dunia pertanian memang tidak cukup menjanjikan karena jumlah penduduk meningkat sementara lahan garapan tidak cukup luas dan tidak sesubur di daerah lain.

Kemiskinan termasuk kelaparan memang tidak serta merta dapat ditanggulangi dengan kemajuan teknologi. Ini adalah sebuah fakta baru bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan kesiapan semua pihak untuk menyikapinya. Dengan demikian masyarakat siap memanfaatkan teknologi untuk menaikkan taraf hidup. Sebagai contoh masyarakat dapat menggunakan tenaga listrik untuk usaha peternakan, penggiligan padi dan lainnya. Demikian pula pendidikan bagi masyakarakat perlu ditingkatkan melalui Pendidikan Luas Sekolah dan sector industri rumah tangga dapat ditingkatkan. Semoga!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 23,961 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.091 pengikut lainnya

Flickr Photos

Fast-flying Falcon

sunset and fishing nets

Force of Life - Pushing Boundaries I

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: