TERANG SEJATI-DUSUN JATI

Beranda » BERITA » KEARIFAN LOKAL

KEARIFAN LOKAL

KEARIFAN LOKAL
KAYU BAKAR, MINYAK TANAH DAN KOMPOR GAS

Apakah hubungan dari kayu bakar, minyak tanah dan kompor gas (LPG) ?

Ya mereka bukan saudara seibu mungkin atau sepupu atau bahkan saling menggantikan. Namun inilah kisah nyata dari susahnya mengatur sumber daya alam (SDA) di negeri yang terkenal kaya raya dari Merauke sampai Sabang. Kayu baker mngkin dikenal di masyarakat tradisional yang penuh kearifan, sementara minyak tanah juga sangat lekat di semua lapisan (masyarakat kelas menengah ke bawah) dan kompor gas merupakan sesuatu yang mahal dan kurang bersahabat bagi masyarakat tradisional.

Kayu bakar
Bagi masyarakat tradisional di pedesaan kayu bakar sangat mudah ditemui. Kayu bakar menjadi energi besar untuk melangsungkan kehidupan sebuah keluarga. Kayu bakar dapat diambil di perbukitan atau semak-semak yang kemudian dikeringkan sehingga siap untuk dibakar. Nilai positif dari kehiduan keluarga desa dengan kayu bakar adalah semua anggota keluarga dapat berperan dan saling bekerjasama. Bila orang tua sibuk mengurusi sawah, anak-anak dapat mengambil kayu bakar di bukit atau semak-semak untuk kemudian digunakan sebagai kayu bakar. Tidak ada kayu bakar yang dihasilkan dari penebangan illegal karena kayu bakar tidak diambil dari kayu-kayu yang digunakan untuk membangun rumah. Jadi pengambilan kayu bakar tidak pernah melibatkan cukong atau menjadi illegal loging. Nilai yang lain adalah kayu bakar di desa-desa sangat murah dan tidak membahayakan karena kayu bakar yang digunakan di pawon-pawon (tungku) tidak akan pernah menjadi ledakan atau membakar rumah. Rumah-rumah di desa dikenal sangat besar dan tidak minimalis seperti dipermuahan elit atau perumahan kluster pada masa ini.

Api ternyata juga menjadi sebuah “nyawa” persahabatan dan kekeluargaan. Pada zaman dulu banyak petani pulang dari sawah telah sore. Sementara korek api tidak cukup murah seperti zaman ini. Anak-anak memiliki tugas dan peran dalam keluarga “njalok geni” (meminta api) dari tetangga yang sudah membuat perapian di dapur pada waktu sore hari. Meminta api biasanya menggunakan media blarak (daun kelapa) yang diikat atau menggunakan janggel (tongkol) jagung yang dicelupkan ke minyak tanah. Disinilah kehidupan tradisional memiliki nilai tatanan dan makna sebagai kehidupan saling menolong dan berbagi.

Minyak tanah.
Salah satu sumber energi untuk penerangan adalah minyak tanah. Pada zaman dulu sebelum ada listrik rumah-rumah di dusun menggunakan sentir, dian atau lampu tepok untuk penerangan. Sedangakan bila ada acara yang lebih besar, acara keluarga menggunakan lampu petromax untuk penerangan. Kegelapan dan suasana sunyi terpecahkan dengan lampu-lampu di rumah-rumah. Minyak tanah juga bisa diiisikan ke dalam onco-oncor (penerang terbuat dari bambu yang bersumbu kain) untuk perjalanan malam dari dusun ke dusun atau rumah ke rumah pada waktu malam. Harga minyak tanah pun sangat terjangkau. Minyak tanah pun bukan barang berbahaya untuk penerangan. Karena juga tidak ada kasus sentir atau dian meledak dan membakar rumah. Namun mulai tahun 2007 minyak tanah menjadi bahan bakar yang sangat mahal dan tidak mudah ditemui di warung-warung. Tetapi saat ini minyak tanah menjadi bahan bakar yang sangat mahal dan hanya dijual di SPBU. Entah kemana ? padahal minyak tanah sangat dibutuhkan para pedagang kecil dan rumah tangga di pedesaan.

KOMPOR GAS
Kompor gas LPG pada waktu sekarang khususnya yang berukuran 3 kg seperti senjata-senjata yang menakutkan. Tentu lebih menakutkan dari pencuri malam hari. Mungkin banyak orang menjadi was-was bukan hanya ibu-ibu yang senang memasak di dapur. Hal ini terjadi karena banyaknya kasus kompor gas LPG 3 KG meledak, menganguskan rumah sampai menjemput nyawa bagaikan malaikat maut. Bahkan di daerah Salatiga sebuah SPBE di demo karena terlalu dekat dengan pemukiman warga. Warga mengalami ketakutan karena SPBE dapat menampung 50 ton bahan gas. Ini tentu sesuatu yang manusiawi karena yang 3 kg saja dapat membakar sampai 3 rumah.

Kompor gas memang didrop ke rumah tangga-rumah tangga miskin (mungkin juga yang kaya) dan sampai ke desa-desa. Dengan adanya kompor gas LPG (lengakap kompor dan tabungnya) maka bahan bakar minyak tergantikan. Tetapi masyarakat desa tetap bertahan dengan kayu bakarnya dan kompor gas LPG dimuseumkan atau diberikan kepada orang yang mau. Mengapa? Karena Tabung gas LPG 3Kg menakutkan laksana pencuri yang sewaktu-waktu datang dapat menyambar dan mencuri rumah bahkan nyawa. Menurut berita karena ada pihak-pihak yang memalsukan tabung gas dan tidak berstandar SNI.

PEMAKNAAN KEARIFAN
Lalu apakah apa yang dapat kita tarik dari rentetan cerita tersebut? Suatu cerita dapat menjadi makna tersendiri-sendiri bagi setiap orang menurut kepentingannya. Bagi warga desa, kayu bakar warga tentu lebih mempunyai makna dari pada kompor meleduk. Di pinggir pawon, dapat membakar jagung, atau jadah (ketan). Menghangatkan badan di sekitar perapian setelah mandi dan (pulang dari lading) atau setelah kehujanan di dekat perapian membawa kedamaian dan canda antara orang tua dan anak-anak. Kehadiran kompor gas LPG telah menghilangkan kehangatan hubungan antara anggota keluarga telah menenggelamkan komunikasi kelaurga yang begitu akrab di dekat pawon (atau tungku) dapur keluarga. Namun syukur bahwa masyrakat desa masih menjaga kearifan local sehingga semua kehidupan keluarga dan keharmonisan alam dan lingkungan dapat terjaga.

***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 23,884 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.091 pengikut lainnya

Flickr Photos

Morning Silence

Puffy

Emerald Damselfly ♀

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: